Studi Kasus Pengelolaan wisata alam di masa Pandemi

Studi kasus Pengelolaan wisata alam di masa Pandemi

(Studi kasus: Wisata Cempakawulung, Moga, Pemalang)

 

Aghi Vaiz Zakaria – Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan

Universitas Jendral Soedirman 2020

Pandemi virus korona yang terjadi di indonesia mengakibatkan tehambatnya hampir seluruh kegiatan masyarakat indonesia baik untuk masyarakat menengah ke bawah maupun masyarakat dengan keadaan ekonomi menengah ke atas. Salah satunya yaitu kegiatan di sector pariwisata. Sebelumnya pemerintah mengedarkan peraturan untuk masyarakat tetap berada dirumah sehingga penyebaran virus dapat dicegah, namun saat ini masyarakat sudah diperbolehkan untuk beraktifitas diluar ruangan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Bagaimanapun berada dirumah selama kurang lebih tiga bulan tentu terasa membosankan, terlebih tanpa berwisata sesekali dalam sebulan. 

Dengan adanya kebijakan baru sehingga masyarakat dapat mengunjungi tempat tempat wisata yang sudah dierbolehkan beroperasi. Salah satu tempat wisata yang sedang di buru oleh masyarakat saat ini adalah wisata yang berdampingan dengan alam langsung, karena selain tempatnya yang sudah pasti asri, tempat wisata alam biasaya cenderung harganya lebih terjangkau, baik tiket masuknya ataupun apa yang disuguhkan di dalamnya. Dalam kasus ini, saya sebagai penulis membuat studi kasus pada tempat wisata yang berdampingan dengan alam dan keberadaannya masih dalam tahap pengembangan, yaitu kawasan wisata Cempakawulung.

Studi Kasus Pengelolaan wisata alam di masa Pandemi
Studi Kasus Pengelolaan wisata alam di masa Pandemi

Cemapakawulung merupakan salah satu tempat wisata yang berdampingan langsung dengan hutan lindung yang dikelola oleh perhutani BKPH Moga Pekalongan barat, Cempakawulung terletak di Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang. Tempat wisata ini mulai aktif di kelola sejak tahun 2015 ini merupakan salah satu tempat yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekitar Moga, karena di tempat inilah pertama kali sumber mata di wilayah Moga di temukan.

 

Salah satu daya tarik yang membuat wisata cempakawulung ini berbeda dengan yang lain adalah wisatawan yang berkunjung ke cempakawulung dapat berbaur langsung dengan masyarakat di sekitar kawasan wisata cempakawulung  yang sedang beraktivitas seperti mencuci, mandi, berkebun, dan sebagainya. Selain itu, air yang berada di cempakawulung selalu mengalir dan tidak pernah habis dan tidak mengenal musim, ditambah lagi lokasi cempakawulung yang berada di samping hutan lindung yang membuat wisatawan semakin nyaman ketika berkunjung wisata cempakawulung ini. Selain memiliki daya tarik yang luar biasa, ada beberapa hal yang menjadi kekurangan dari tempat wisata cempakawulung ini, salah satunya yaitu akses jalan menuju lokasi yang susah dijangkau oleh masyarakat khusunya ketika menggunakan kendaraan roda empat.

Di masa pandemi seperti ini tidak bisa dipungkiri jika banyak kegiatan yang harus dibatasi salah satunya yaitu berwisata, seperti yang ceritakan oleh Bapak Fakhrudin selaku Ketua RW sekaligus pengelola wisata cempakawulung bahwa dampak dari adanya pandemi seperti ini terhadap wisata cempakawulung sangat jelas terlihat, seperti sepi nya pengunjung dan menurunnya aktivitas warga sekitar wisata cempakawulung, bahkan untuk kolam renangnya sejak awal pandemic sampai sekarang tutup total.

Harapan dari bapak Fakhrudin selaku ketua RW dan salah satu pengelola di wisata cempakawulung adalah warga masyarakat khususnya warga cempakawulung itu sendiri membuat pesona alam sendiri, karyanya karya sendiri, karena dari bumdes sendiri tidak berfikir tentang bagaimana hasil sebanyak mungkin, tetapi mementingkan bagaimana warga masyarakat disitu agar ekonominya lebih lancer dan maju dengan adanya wisata itu.

(Penulis : Aghi Vaiz Zakaria)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *