Reduksi Problematika Sosial-Ekonomi Melalui Sociopreneurship oleh Akhyar Royan Fadli design by Nugroho Dwi Santoso

Reduksi Problematika Sosial-Ekonomi Melalui Sociopreneurship – Vol 1.0

Sociopreneurship – Mengawali masa pemerintahannya yang kedua, dalam sambutannya pada Sidang Pripurna Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa setidaknya terdapat 5 tugas prioritas yang akan diwujudkannya. Salah satunya ialah Pembangunan Sumber Daya Manusia. Targetnya ialah membangun SDM yang pekerja keras, dinamis, terampil serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Kompas,  2019).

Sebagai negara berkembang, sumber daya manusia Indonesia masih terbilang rendah. Meskipun sudah mengelami peningkatan berdasarkan laporan “The Human Capital Index 2020 Update: The Human Capital in the Time of Covid-19” yang diterbitkan oleh Bank Dunia atau World Bank, nilai Indeks Sumber Daya Manusia Indonesia pada tahun 2020 sebesar 0,54 angka tersebut merupakan kenaikan dari 0,53 pada tahun 2018. Skor HCI 2020 tersebut diolah dalam jangka waktu Maret 2020, dengan demikian laporan tersebut belum memperhitungkan dampak yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.

Hadirnya Covid-19 telah membawa kepanikan hampir diseluruh negara dibelahan dunia. Dampak di berbagai sektor turut dirasakan termasuk Indonesia. Banyaknya sektor terdampak, salah satunya kegiatan ekonomi yang tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya telah menimbulkan peningkatan angka kemiskinan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan angka kemiskinan di Indonesia mencapai angka 10,19 persen pada September 2020. Di sektor pendidikan, terhambatnya proses belajar mengajar menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan belajar siswa (Learning Loss). Hal tersebut memperburuk kondisi sumber daya manusia yang dihasilkan dan berdampak pada kemiskinan yang berkelanjutan.

Kemiskinan merupakan masalah utama dan paling mendasar yang harus terus diatasi. Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai suatu kondisi ketika seseorang atau kelompok tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dengan kondisi seperti itu, kemiskinan telah mendasari berbagai problematika sosial lainnya yang muncul di kehidupan masyarakat. Kemiskinan menjadi tantangan tersendiri bagi para negara berkembang salah satunya ialah Indonesia.

Tingkat pendidikan yang rendah menjadi penyebab kemiskinan yang hampir terjadi di semua negara berkembang. Rendahnya pendidikan mengakibatkan kecenderungan seseorang kurang memiliki wawasan, keterampilan dan pengetahuan yang cukup untuk menjalani kehidupannya. Sedangkan dalam dunia kerja yang merupakan sebuah motif ekonomi yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, pendidikan menjadi modal utama sejauh mana seseorang dapat diterima, mendapatkan posisi dan memperoleh penghasilan yang cukup. Ketika seseorang tidak memiliki modal yang cukup dalam hal ini pendidikan, maka peluangnya begitu kecil bagi seseorang dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam kata lain, seseorang akan sangat bekerja keras untuk mendapatkannya.

Tingkat pendidikan yang rendah memberikan dampak yang sebanding dengan rendahnya sumber daya manusia yang dihasilkan. Masalah satu dengan lainnya seperti saling terhubung dan saling berpengaruh. Kemiskinan menyebabkan sulitnya akses pendidikan. Kemiskinan menyebabkan sulitnya memperoleh akses kesehatan yang layak. Kemiskinan menyebabkan angka kriminalitas yang tinggi, lingkungan kumuh diperkotaan, dll.

Berbagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan telah banyak dilakukan. Salah satu solusi pengentasan kemiskinan adalah dengan dunia wirausaha (enterpreneurship). Upaya penyelesaian masalah sosial melalui pendekatan wirausaha merupakan sebuah terobosan yang dapat dilakukan terutama bagi generasi muda. Melalui aksi kewirausahaan sosial ini mampu mereduksi jumlah kemiskinan dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang ada. Dengan menjalankan kewirausahaan sosial generasi muda dioptimiskan dapat mengatasi masalah-masalah sosial yang ada. Sociopreneurship merupakan solusi gerakan sosial dibidang ekonomi yang dapat memberikan peluang usaha terutama di daerah pedesaan, dengan melakukan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat desa yang mempertimbangkan berbagai potensi dan peluang yang ada dipedesaan. Sifatnya yang sustainable, sociopreneurship optimis dapat memberikan solusi efektif terhadap permasalahan ekonomi (kemiskinan) dan masalah sosial lainnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *