Pengelompokan Jalan Raya Insdu Tech by Nugroho Dwi Santoso

Pengelompokan Kelas Jalan Raya di Indonesia

Kelas jalan di Indonesia sudah diatur oleh peraturan perundang-undangan, dimana ada pembaruan yang berkala dan disesuikan dengan kebutuhan serta perkembangan zaman.

Kelas Jalan Raya

Menurut PP NO. 13 Tahun 1970 kelas jalan dapat digambarkan sebagai berikut :

  • Jalan dibagi dalam kelas-kelas yang penetapannya kecuali didasarkan pada fungsinya juga dipertimbangkan pada besarnya volume serta sifat lalu lintas yang diharapkan akan menggunakan jalan yang bersangkutan.
  • Volume lalu lintas dinyatakan dalam satuan mobil penumpang (smp) yang besarnya menunjukkan jumlah lalu lintas harian rata-rata (LHR) untuk kedua jurusan.
  • Klasifikasi jalan tersebut adalah sebagai berikut :

KLASIFIKASI

LALU LINTAS HARIAN RATA² (LHR) dalam smp.

Fungsi

kelas

UTAMA

I

> 20.000

SEKUNDER

II A

6.000 sampai 20.000

 

II B

1.500 sampai 8.000

 

II C

< 2.000

PENGHUBUNG

III

 

 

 

Dalam menghitung besarnya volume lalu lintas untuk keperluan penetapan kelas jalan, kecuali untuk jalan-jalan yang tergolong dalam kelas IIC dan III, kendaraan yang tak bermotor tak diperhitungkan dan untuk jalan-jalan kerlas IIA dan I, kendaraan lambat tak diperhitungkan.

Khusus untuk perencanaan jalan-jalan kelas I, sebagai dasar harus digunakan volume lalu lintas pada saat-saat sibuk. Sebagai volume waktu sibuk yang digunakan untuk dasar suatu perencanaan ditetapkan sebesar 15% dari volume harian rata-rata. Volume waktu sibuk ini selanjutnya disebut volume tiap jam untuk perencanaan atau disingkat VDP, jadi VDP = 15% LHR.

 

Sedangkan untuk pembagian kelas jalan yang diatur oleh PP NO. 43 Tahun 1993 tentang prasarana dan lalu lintas jalan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UULLAJ No. 14/1992. Pembagian kelas tersebut adalah :

  • Jalan kelas I

Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 10000 mm, dan muatan sumbu terberat yang diijinkan lebih besar dari 10 ton.

  • Jalan kelas II

Jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 18000 mm dan muatan sumbu terberat diijinkan 10 ton.

  • Jalan kelas IIIA

Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 18000 mm dan muatan sumbu terberat diijinkan 8 ton.

  • Jalan kelas IIIB

Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 12000 mm dan muatan sumbu terberat diijinkan 8 ton.

  • Jalan kelas IIIC

Jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2500 mm, ukuran panjang tidak melebihi 9000 mm dan muatan sumbu terberat diijinkan 8 ton.

Bentuk Topografi / Train

Topografi merupakan faktor penting dalam menentukan lokasi jalan dan pada umumnya mempengaruhi alignment sebagai standard perencanaan geometrik seperti landai jalan, jalan pandangan, penampang melintang dll nya. Bukit, lembah, sungai dan danau sering memberikan pembatasan terhadap lokasi dan perencanaan.

Untuk memperkecil biaya pembangunan jalan, maka standard perencananan geometrik perlu sekali disesuaikan dengan keadaan topografi, sehingga jenis medan

dibagi menjadi tiga golongan umum berdasarkan besarnya kelerengan melintang dalam arah kurang lebih tegak lurus sumbu jalan raya.

Adapun pengaruh medan meliputi hal-hal seperti :

  1. Tikungan :    Jari-jari tikungan dan pelebaran pekerasan diambil sedemikian rupa sehingga terjamin keamanan jalannya kendaraan-kendaraan dan pandangan bebas yang cukup luas.
  2. Tanjakan :    Adanya tanjakan yang cukup curam, dapat mengurangi kecepatan kendaraan dan kalau tenaga tariknya tidak cukup, maka berat muatan kendaraan harus dikurangi yang berarti mengurangi kapasitas angkut dan sangat merugikan. Karena itu diusahakan supaya tanjakan dibuat landai.
  3. Penampang Melintang jalan
  4. Trase

Klasifikasi medan dan besarnya ke lerengan melintang

            Golongan medan                         Lereng melintang

            – Datar (D)                                    0 sampai 9,9%

            – Bukit (B)                                     10 sampai 24,9%

            – Gunung (G)                                25% keatas.

Pembangunan jalan raya di Indonesia sesungguhnya telah dimulai sejak berdirinya kerajaan-kerajaan tertua di wilayah Nusantara, antara lain pada zaman kejayaan kerajaan Tarumanegara, kerajaan Melayu, kerajaan Kutai, kerajaan Sriwijaya, dan kerajaan lainnya mulai tahun 400 hingga tahun 1519 Masehi. Pada zaman kejayaannya kerajaan tersebut merupakan pusat perdagangan yang ramai dikunjungi, baik oleh para pedagang mancanegara khususnya India, Cina, Portugis dan Belanda, tetapi ramai juga dikunjungi dari berbagai pelosok Nusantara. Dalam menjalankan kegiatan perdagangannya mereka juga membangun jalan untuk mengangkut barang-barang dagangannya, dan mengangkut batu-batu besar untuk membangun candi-candi sebagai tempat peribadatan. Sampai sekarang belum diketahui dengan jelas bagaimana bentuk dan susunan konstruksi jalan yang dibuat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *