Sri Wahyudi Menjadi Lulusan Terbaik di Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya (EEPIS)

Menjadi yang Terbaik, Bukanlah Sebuah Akhir – Sri Wahyudi

InsduPedia – Menyelesaikan masa studi tingkat diploma 3 (D3) diumur 21 tahun dengan predikat Cumlaude serta dinobatkan menjadi mahasiswa terbaik seangkatan di Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya (EEPIS) memberi Semangat baru bagi Sri Wahyudi A.Md untuk terus berkarya dan berprestasi dimanapun Ia berada kedepannya. Baginya hal ini bukan sebuah akhir dari pencapaian, karena banyak lagi hal yang menanti untuk digarap oleh tangan dinginnya.

Sri Wahyudi merupakan putra daerah Kota PurwodadiJawa Tengah mempunyai tekad kuat untuk menjadikan daerahnya lebih maju dan berkelanjutan, dilihat dari imipiannya menjadi insiyur sekaligus ingin menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Orang tua merupakan salah satu pendukungnya hingga ke titik ini, “Orang tua saya terutama ibu saya tidak pernah absen untuk sholat tahajud & puasa kalau saya lagi ujian atau lomba, dan hal itulah yang memberikan dukungan moril kepada saya untuk terus berjuang, berjuang dan berjuang,” jelas Sri Wahyudi.

Mempunyai prinisp  “Berteman dengan Ilmu” memberikan perjalanan pendidikannya penuh dengan kisah cemerlang. Sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Purwodadi. Dilanjutkan mendapat beasiswa dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Jawa Tengah (SMK N Jawa Tengah). Semangat tekadnya pun terus bertambah ketika Ia diterima di Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya (EEPIS), Surabaya melalui jalur UMPTN waktu itu sampai meraih predikat siswa terbaik di kampusnya.

Dalam Tugas Akhirnya Sri merancang sebuah alat Analisa listrik, “semacam power quality analyzer yang di padukan dengan sistem IOT (Internet of Things), fungsinya itu untuk menganalisis kualitas daya listrik yang ada di industri, karena kalau gangguan kualitas daya tidak segera di deteksi dan di perbaiki, lama-lama akan berakibat pada rusaknya peralatan/mesin industri, itu untuk jangka panjangnya…, kalau jangka pendeknya bisa berakibat pada borosnya pemakaian listrik yang berdampak pada biaya pengeluaran dari industri tersebut,” tambahnya.

Saat ini Sri merencanakan untuk apply atau akan mencari pekerjaan dulu sesuai keahliannya, dan tetap merencankan pendidikan lanjutannya kedepan. Ia juga berpesan pada dirinya dan juga kepada teman-teman, “Tetep Semangat dalam menggapai cita-cita, jangan pernah berhenti belajar, karena menuntut ilmu itu adalah sebuah keharusan, kalau bisa belajar juga teknologi, karena dunia itu berkembang ke arah sana, akan sangat menarik ketika sebuah desa itu di bangun dan di berdayakan dengan teknologi seperti smart farming misalnya,”

 

Sri juga ingin menyampaikan terima kasih untuk orang-orang yang selalu memberikan dukungan dan bimbingannya terkhusus untuk orang tua, Prof. Anang Tjahjono, Ibu Retno Wulandari, Bapak Musa Dimyati, Ibu Sri, Bapak Bhagia, Seluruh Dosen PENS, Bapak Ibu Guru SMK Negeri Jawa Tengah, serta teman-teman. Saya rasa Sri juga siap untuk diajak kolaborasi untuk berkarya yang mengembangkan teknologi yang bermanfaat di desa.

Penulis : Nugroho Dwi Santoso, 10 Agustus 2021

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *