Klasifikasi Jalan Nugroho Dwi Santoso

Belajar Spesifikasi & Klasifikasi Jalan Raya di Indonesia

      Indonesia merupaka negara yang terus berbenah dan terus bereksplorasi, membangun kuat perekonomian, mengikat dan mempermudah jalannya berbagai aktivitas guna percepatan pembangunan nasional. Jalan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung kegiatan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan. Jalan dikembangkan melalui pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah, membentuk dan memperkukuh kesatuan nasional untuk memantapkan pertahanan dan keamanan nasional. Maka dari itu klasifikasi jalan sangatlah berpengaruh dalam lancarnya sebuah pergerakan transportasi sobat. Klasifikasi jalan juga harus disesuikan dengan perkembangan zaman, seperti teknologi, model transportasi, perilaku masyarakat dan lain sebagainya. Klasifikasi jalan berguna dalam regulasi di mobilitas jalan raya. Yuk simak penjelasan klasifikasi jalan dan spesifikasinya menurut perundang-undangan di Indonesia.

Dalam mewujudkan prasarana transportasi darat yang melalui jalan, harus terbentuk wujud jalan yang menyebabkan pelaku perjalanan baik orang maupun barang, selamat sampai di tujuan, dan dalam mendukung kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, perjalanan harus dapat dilakukan secepat mungkin dengan biaya perjalanan yang adil sehingga dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Disamping itu, adalah hal yang ideal untuk pelaku perjalanan, selain dapat dilakukan dengan selamat, cepat dan murah, juga nyaman, sehingga perjalanan tidak melelahkan.

Klasifikasi dan Spesifikasi Jalan Raya

Agar tedapat kesesuaian antara kepadatan lalu lintas dengan tingkat pelayanan jalan, maka ditetapkan klasifikasi dan spesifikasi suatu jalan raya. Klasifikasi dan spesifikasi tersebut sangat berguna dan dapat memberikan kejelasan mengenai tingkat kepadatan lalu lintas yang perlu dilayani oleh setiap bagian bagian jalan. Kalsifikasi dan spesifikasi jalan raya dapat dibedakan menurtu fungsi pelayanan menurut kelas jalan, mnurut keadaan topografi, penggolongan layanan administrasi dan menurut jenis jenis jalan raya.

Menurut Fungsi Pelayanan

Jalan raya menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1980 tentang jalan raya, serta peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1985, maka sistem jaringan jalan raya Indonesia dibedakan atas sistem jalan raya Primer dan sistem jalan raya Sekunder.

  • Sistem jalan raya primer

      Sistem jalan raya primer adalah sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah pada tingkat

Nasional, yaitu dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota.  

       Pada sistem jaringan ini jaringan jalan ryaa primer menghubungkan simpul-simpul jasa distribusi penting meliputi:

  1. Jalan raya dalam suatu satuan wilayah pengembangan yang menghubungkan secara menerus Ibu Kota provinsi, Ibu Kota kabupaten/kota, Kota-kota kecamatan dan kota-kota yang lebih kecil pada jenjang di bawahnya.
  2. Menghubungkan antar Ibu kota provinsi yang satu dengan ibu kota Provinsi lainnya (anta ribu kota Provinsi).
  • Sistem jalan raya Sekunder

Jalan raya sekunder merupakan jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat dalam kota. Ini berarti bahwa jaringan jalan sekunder direncanakan menurut ketentuan pengaturan tata ruang pembangunan perkotaan, yaitu berfungsi menghubungkan wilayah yang mempunyai fungsi primer dan fungsi sekunder serta pelayanan jaringan jalan dari rumah ke rumah.

Oleh sebab itu jaringan jalan sekunder disebut juga “jalan kolektor (pengumpul/pembagi)”, yaitu berfungsi menjamin kelancaran menumpulkan dan mendistribusikan bahan bahan pokok kebutuhan masyarakat dari kota kota penting tertentu ke kota kota yang lebih kecil. Selain itu jugaberfungsi untuk melayani keperluan lalu lintas pada daerah disekitarnya

Dalam hubungannya dengan perencanaan geometriknya, ketiga golongan jalan tersebut dibagi dalam kelas-kelas yang penetapannya sangat ditentukan oleh perkiraan besarnya lalu lintas yang diharapkan akan ada pada jalan tersebut. (PP NO. 13/1970).

Sedangkan menurut PP NO. 26 Tahun 1985 jalan mempunyai suatu sistem jaringan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki. Menurut peranan pelayanan jasa distribusinya, sistem jaringan jalan terdiri dari :

    • Sistem jaringan jalan primer, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional dengan semua simpul jasa distribusi yang berwujud kota.
    • Sistem jaringan jalan sekunder, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota.

Pengelompokan jalan berdasarkan peranannya dapat digolongkan menjadi :

  • Jalan Arteri, yaitu jalan yang melayani angkutan jarak jauh, dengan kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.
  • Jalan Kolektor, yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpullam dan pembagian dengan ciri-ciri merupakan perjalanan jarak dekat, dengan kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk dibatasi.
  • Jalan Lokal, yaitu jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-ratanya rendah dengan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

            Sedangkan persyaratan jalan sesuai dengan peranannya dapat dirinci sebagai berikut  (PP No. 26 Tahun 1985) :

  1. Jalan Arteri Primer
    • Kecepatan rencana minimum 60 km/jam
    • Lebar badan jalan minimum 8 meter
    • Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata
    • Lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulak alik, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal
    • Jalan masuk dibatasi secara efisien (jarak antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 500 meter)
    • Persimpangan dengan jalan lain dilakukan pengaturan tertentu sehingga tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan
    • Tidak terputus walaupun memasuki kota
    • Persyaratan teknis jalan masuk ditetapkan oleh Menteri.
Hosting Unlimited Indonesia
  1. Jalan Kolektor Primer
    • Kecepatan rencana minimum 40 km/jam
    • Labar badan jalan minimum 7 meter
    • Kapasitas sama dengan atau lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata
    • Jalan masuk dibatasi, direncanakan sehingga tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan (jarak antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 400 meter)
  2. Jalan Lokal Primer
    • Kecepan rencana minimum 20 km/jam
    • Lebar minimum 6 meter
    • Tidak terputus walaupun melalui desa
  3. Jalan Arteri Sekunder
    • Kecepatan rencana minimum 20 km/ jam
    • Lebar badan jalan minimum 8 meter
    • Kapasitas sama atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata
    • Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat
    • Jalan masuk dibatasi, direncanakan sehingga tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan (jarak antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 250 meter).
    • Persimpangan denga pengaturan tertentu, tidak mengurangi kecepatan dan kapasitas jalan.

        5. Jalan Kolektor Sekunder

    • Kecepatan rencana minimum 20 km/jam.
    • Lebar badan jalan minimum 7 meter.
    • Jalan masuk dibatasi, direncanakan sehingga tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan (jarak antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 200 meter).

         6. Jalan Lokal Sekunder

    • Kecepatan rencana minimum 10 km/jam.
    • Lebar badan jalan minimum 5 meter.
    • Persyaratan teknik diperuntuk bagi kendaraan beroda atau lebih
    • Lebar badan jalan tidak diperuntuk bagi kendaraan beroda tiga atau lebih, minimal 3,5 meter.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *